FGD Kajian Komoditas Ruminansia Besar Rumuskan Strategi Pengembangan Ternak Unggul
Dalam merumuskan arah pengembangan komoditas ruminansia besar untuk mendukung swasembada pangan nasional. BRMP RB menyelenggarakan FGD Kajian Komoditas Ruminansia Besar dengan tema "Gagasan dan Solusi Pengembangan Ruminansia Besar Unggul Berkelanjutan". Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2026 di Grhaandini. Kepala BRMP RB Dr. drh. Dicky M. Dikman, M.Phil berharap para narasumber dapat memberikan masukan yang konstruktif sebagai dasar penyusunan arah pengembangan ruminansia besar serta menekankan pentingnya mendorong peningkatan kapasitas peternak lokal dalam mendukung swasembada pangan, khususnya pada komoditas sapi perah. Sementara itu, Kepala Pusat BRMP Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) yang hadir secara daring berharap BRMP Ruminansia besar mampu memberikan kontribusi lebih besar melalui inovasi perakitan, penelitian, dan modernisasi peternakan sehingga mampu menghasilkan produk ruminansia yang berdaya saing.
Pada sesi pertama, paparan mengenai Arah Pengembangan Sapi Perah Adaptif Dataran Rendah oleh Prof. Dr. Sri Pantja Madyawati, drh., M.Si. Beliau menjelaskan BRMP Ruminansia Besar berencana mulai mengembangkan komoditas sapi perah yang di dukung oleh Universitas Airlangga dalam aspek penelitian dan pengembangan. Sapi Perah Grati dinilai memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mampu beradaptasi pada suhu tinggi dan wilayah dataran rendah, memanfaatkan pakan lokal, serta menghasilkan susu berkisar 10–15 liter per ekor per hari dengan kadar lemak 3–4 persen yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Keberhasilan usaha sapi perah sangat dipengaruhi oleh performa reproduksi, khususnya calving interval. Ditekankan prinsip "No calf, no milk, no money", sehingga sapi diupayakan bunting kembali maksimal 100 hari setelah melahirkan.
Pada paparan kedua mengenai Potensi, Strategi, dan Arah Pengembangan Breeding Sapi Potong di Indonesia, oleh Prof. Dr. Ir. Gatot Ciptadi menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya genetik untuk menghasilkan sapi potong unggul. Pengembangan POGASI Agrinak memiliki prospek besar karena memiliki efisiensi pemanfaatan nutrisi, daya adaptasi tinggi, karakteristik fisik yang baik, serta performa reproduksi yang unggul. Pengembangan POGASI harus dilakukan secara berkelanjutan dengan memperkuat penelitian gen Heat Shock Protein (HSP) sebagai dasar seleksi sapi yang adaptif di wilayah tropis. Ia juga menyatakan kesiapan perguruan tinggi untuk berkolaborasi dalam penelitian sekaligus memperkuat promosi POGASI melalui berbagai media.
Melalui FGD ini, disepakati perlunya penyusunan grand design dan blueprint pengembangan ruminansia besar sebagai arah pembangunan sapi POGASI, Belgian Blue, dan Sapi Perah Grati dengan target capaian yang terukur. Penguatan penelitian molekuler, konservasi plasma nutfah, pengembangan teknologi reproduksi, serta kolaborasi antara BRMP, BRIN, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan peternak diharapkan mampu mempercepat terwujudnya swasembada daging dan susu sekaligus meningkatkan daya saing peternakan ruminansia besar Indonesia secara berkelanjutan.